Puisi Perkahwinan: Resep Sederhana Mengawetkan Cinta


I

Apabila mula masuk cuti sekolah dan bertindihan dengan tarikh-tarikh cantik ini, saya ingin berkongsi puisi-puisi tentang perkahwinan yang saya tahu di blog ini. Saya akan memuat-naik satu puisi setiap hari. Puisi ini boleh sahaja dibacakan oleh pengacara ketika mengacarakan majlis, atau kepada sesiapa yang menulis dalam guest book pengantin, atau di dalam kad yang mengiring hadiah perkahwinan.

Semua puisi perkahwinan ini adalah puisi yang saya suka baca, dan salah satu daripada puisi ini ingin saya abadikan dalam kad perkahwinan saya (impian sejak zaman belasan tahun, hahaha)

II

Puisi ini saya temui dalam salah satu blog Aan Mansyur dan saya terus sahaja jatuh hati kepada puisi ini (ya, saya tahu pembaca blog mungkin dah bosan membaca saya jatuh hati dengan sajak Aan Mansyur. Hahaha) Saya telah menghadiahkan puisi ini di dalam salah satu guest book majlis perkahwinan kawan baik saya dua tahun yang lalu.

Aan Mansyur menuliskan sajak ini untuk temannya yang Aan tidak dapat menghadiri majlis perkahwinannya.(Kalau tidak silap saya)

Saya sukakan resipi mengawetkan cinta di dalam sajak ini dan sungguh saya menunggu untuk mengatakan kepada (bakal) pasangan saya (yang sedang hilang GPS ke hati saya, hahaha)

sungguh, sayang, saya beruntung menemukan
seseorang yang kepadanya mulutku sangat
sangat sangat berat buat mengatakan satu
kalimat-dua-kata: selamat tinggal.

III


Aan Mansyur – Resep Sederhana Mengawetkan Cinta

jika anda mendengar atau membaca
kalimat sederhana entah dari siapapun,
entah di mana, catat atau ingatlah satu
atau dua kata dari kalimat tersebut.

masukkan kata-kata itu
ke dalam sebuah puisi sederhana.
tak perlu memaksa diri menulis puisi
yang, katakanlah, terlalu berbunga-bunga.

di bawah judul, tuliskan nama pasangan anda.
atau jadikanlah namanya sebagai judul puisi
—bisa menambah kata ‘untuk’ atau ‘buat’
di depannya. ingat, panggilan sayangnya saja.

atau sebaiknya saya ceritakan bagaimana
saya menggunakan resep sederhana ini.

saat berbulan madu, kami menonton film,
saya mendengar kalimat diucapkan seorang
dalam satu adegan di tengah-tengah film itu.

sekarang saatnya mengatakan selamat tinggal.

dengan kata-kata sederhana, saya lalu menulis
sebuah puisi pendek di kamar untuk istri saya.

‘selamat tinggal’ judulnya. saya tulis namanya
di bawah kata dari film yang jadi judul puisi itu.

sungguh, sayang, saya beruntung menemukan
seseorang yang kepadanya mulutku sangat
sangat sangat berat buat mengatakan satu
kalimat-dua-kata: selamat tinggal.

puisi itu saya tulis di balik foto pengantin kami

saya membacanya pertama kali di meja makan,
saat sarapan keesokan harinya. selanjutnya dia
selalu meminta saya membacanya ketika saya
sedang ditimpa kemarahan. juga sebaliknya.

kini, setelah lebih setengah abad sejak puisi itu
lahir, tak lama lagi salah seorang di antara kami
mungkin akan segera dimakamkan. sungguh,
masing-masing kami betul-betul sangat berat
mengucap kalimat selamat tinggal, sangat berat
mengembalikan puisi itu ke kalimat awalnya,
kalimat dari film yang kami sudah lupa judulnya:

sekarang saatnya mengatakan selamat tinggal.

-