Puisi : Tanpa Nama


TANPA NAMA

Hujan merenyai sedih

Pelangi menampakkan diri

Wajah pelangi ada warna-warna indah dan duka

Indah : Itu warna nyata

Duka : Itu warna dalam,kelam

Paradoks

Senyum bukan makna suka

Tawa tidak cermin gembira

Bahasa warna itu arbitrari

Tafsir selapis bukan maksud terpamer

Jangan duga lawan itu memaafkan

Dendam bukan hilang disiram hujan

ainunL.muaiyanah

19.08.08

14 thoughts on “Puisi : Tanpa Nama”

  1. Hidayah ; Terima kasih untuk komen. apa url kamu, boleh ziarah

    kak Rai ; dah hantar. tinggal tunggu nak muncul sahaja ni… macam tunggu buah gugur ni. bilalah karya nak muncul di akhbar dan majalah..

    Redapples : gunakanlah teknik adobephotoshop.. hehehe. nak minta tunjuk ajar? saya rasa kau lagi layak tau

    Like

  2. salam kenal

    mencoba menulis

    selalu saja ada romansa yang romantis. tiap kali menangisi sepi dan rumah yang lengang. keramik putih yang silang menyilang. uh… ingin aku berkeluh, melepas kesah. dan apa masih ada yang berarti; sedangkan hari ini begitu serupa dengan kemarin. mungkin yang membuatku masih sanggup bertahan adalah senantiasa aa mimpi yang menggantung bersama embun di sudut daun. meski kadang aku ragu. adakah itu mimpiku?

    tapi…apa itu mimpi? apakah mimpi itu?

    apa mimpi itu semenakjubkan engkau…? yosh, mimpiku mungkin tak membuatmu terharu. tak juga membuat luruh lazuardi biru. tapi… bukankah kebersamaan yang sederhana lebih berarti daripada sejuta kuntum mawar ranum, seribu puisi tentang pelangi dan matahari, selaksa gerimis rindu dan senyum malumalu?

    lalu apa itu rumah? apakah itu adalah tempat dimana kita letakkan mimpi? bukankah tak ada tempat seindah rumah dan tak ada rumah seindah kenangan? mungkinkan mimpi itu merupakan suatu kenangan? ataukah mimpi dan kenangan itu masing2 mempunyai rumah sendiri? ataukah rumah itu akan kita bangun dengan mimpi dan kenangan kita?

    ah…harapan yang terlalu indah seringkali hanya berakhir menjadi biji yang tak pernah bersemi. namun tetaplah, bahwa sebuah garis yang paling panjang sekalipun awalnya adalah sebuah titik kecil. maka kita rangkai titik demi titik, dan kita lalui jarak antar titik itu dengan senyum dan rasa syukur.

    if those tears help our dreams come true, we won’t regret it

    22 Juli 2008

    agak beda ya bahasa kita….

    Like

  3. kak hanie: insya Allah tembus media.. tgh usaha ni.. doakan yang baik-baik sahaja ya

    en kalambu : kata org mmg kemaafan dendam terindah. tetapi tak suma dendam itu bersifat memaafkan

    cik bayu : aduhai, kata-kata kamu ini indah. tiada bezanya bahasa kita. tetap kalimah yang beersayap-sayap. insyaallah saya akan berkunjung ke taman kamu itu

    Like

  4. salam kenal,
    minta izin link ke blog saya ya?
    maaf sebab link senyap2 sebelum ni..
    sebab saya pun cuma silent reader blog cik ainun ini..
    terasa segan pula mahu tinggalkan komen sebab saya sangatlah tidak puitis orangnya…
    cuma suka sastera tapi tidak pandai bersastera..huhu.

    Like

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s