Sesudah Perang, Dahlia


Ya!

Kita rasa marah dan meluap amuk dalam dada. Bagaikan mahu pecah dan membuak merah.

Kita lontar suara tanda tidak setuju kepada tangan-tangan kejam yang azamnya sekadar alasan palsu sedangkan tangannya rindu pada hanyir darah.

Kita kepung keinginan dan selera kita pada produk yang menyumbang peluru-peluru sesat menembus otak dan menceraikan menjadi jasad tanpa roh.

Tanah bergelora lautan darah itu bagaikan menyatukan kita di bawah nama saudara seagama yang setiap detik kadang-kadang kita lupa pun.

   
 

   
 

TETAPI

Apakah kesepaduan suara dan semangat yang membuak ini seperti hangat-hangat roti dari oven. Kembang dan membulat bentuk dalam seputar waktu yang ditentukan. Setelah keluar dari oven dan terbiar lalu menjadi tidak gebu dan tidak enak lalu dilupakan?

Aku terpekur sejenak. Bagaimana anda?

   
 

Ini puisi Faisal Tehrani yang aku paling suka. Merasai kesakitan dan pedih akibat perang walau lewat bait kata.

 Sesudah Hujan,Dahlia


Sesudah hujan menitis pada atas bumbung rumah kita,
Dahlia,
Engkau pun ku bawa bersiram,
di telaga yang penuh lumut hitam,
seperti lendir-lendir kenangan,
yang telah kita harungi bersama

Inikan tempat mencuci Balsam,
keldai tua kita,
ini juga takungannya memberi seisi desa,
minum kala hujan sedikit segan,
sekarang di sini aku membasuh
gaun putihmu yang berbasah darah itu

dan pada subuh mereka mendatangi kita
melepaskan titik-titik peluru berjuraian
lebat dan keras
aku sudah pun tahu 
aku bakal kehilanganmu

jangan nangis,Dahlia
sesudah hujan kita akan pergi
meski di sana nanti,
tiada perigi untuk mencuci luka ini

Sempena perjuangan kita
Senyumlah kembali

Anda setuju?