Anwar Ridhwan – Berbagi Duka


Di sebalik helaian Jurnal Sulung, saya jumpa puisi ini, yang hanya sekerat sahaja. Lalu saya sudah jatuh cinta pandang pertama.

Apakah yang lebih membahagiakan kita

selain berbagi duka

kau sepertiga, kau sepertiga, aku sepertiga

di dunia kita bertiga.

Saya tanyakan pada si penulis catatan itu, namun tidak mendapat jawapan. Saya sedikit sedih.

Lalu, ketika membuat kerja sukarela untuk projek MPR di bahagian pengambangan sastera (yang rasanya pejabat itu seperti pejabat kami jua), saya jumpa buku ini di antara banyak-banyak buku yang tersusun di sekian banyak meja. Waktu itu saya benar-benar hampir pulang


Saya belek-belek sahaja. Melambung untung nasib dan di helaian terakhir, saya jumpa puisinya – Berbagi Duka. Rasanya kawan-kawan yang terlihat peristiwa saya menjumpai puisi ini tentu sahaja masih teringat reaksi saya. Jadi biarkanlah menjadi rahsia. Kan?

Untuk kawan-kawan diluar sana, saya catatkan puisi Anwar Ridhwan – Berbagi Duka disini.

Anwar Ridhwan – Berbagi Duka


Kudengar patrum mendedas dari senapang

Menceritakan luka sebuah hutan


kulihat pukat diturunkan

Meriwayat riba sebuah lautan


Ku dengar sesuatu melengking

antara tikton dan jarum jam


Kupelihara kalian, burung-burungku

(disangkar ini)

Kupelihara kalian, ikan-ikan karang

(di akuarium ini)

kupelihara diriku disini


Apakah yang lebih membahagiakan kita

selain berbagi duka

kau sepertiga, kau sepertiga, aku sepertiga

di dunia kita bertiga.


Notakakitangan : Penulis catatan telah membalas email saya, tetapi dia terlewat 3 hari. Hihi