Sajak: Bau Air Mata di Bantal Tidurmu



Bau Air Mata di Bantal Tidurmu

Oleh: Afrizal Malna

Pagi-pagi sekali hutan telah bangun dan berjalan ke kamar hotelmu. Hutan yang berjalan, bayangannya seperti jubah matahari. Disel telah mati. TV telah mati. Ada musang mengambil kepala ayam. Anak-anak babi berebut tetek ibunya. Aku menari, tubuhku terbuat dari oli dan obat tidur. Pagi-pagi sekali. Pagi-pagi sekali batang-batang pohon berjatuhan dari perutku. Gelondongan-gelondongan kayu, pagi-pagi sekali, gelondongan-gelondongan kayu mengapung di sungai Mahakam, diseret oleh ribuan kapal yang seperti menyeret tubuh ibumu pagi-pagi sekali. Ibu yang dilahirkan dari rahim Dayak Bahau. Namaku Lung Ding Lung Intan. Aku juga dipanggil Daleq Devung dan Joan Ping. Bapak dan hinangku adalah sepasang burung elang yang terbuat dari karung plastik. Malam ini aku sedang berhudoq, menari hingga perahu-perahu melaju di permukaan pagi. Pagi yang membuat pusaran- pusaran air di Tering Seberang.

Tarian yang mengajariku tentang sebuah goa di Matalibaq, tempat hutan membuat keluarga. Matahari terbuat dari butiran-butiran jagung, kata mereka. Dan malam baru datang, kalau batang-batang kayu besi telah mengucapkan mantra-mantranya. Burung-burung bangaulah yang telah membuat bulan, kata mereka, ketika permukaan sungai masih bisa membaca kesedihan-kesedihanmu. Lalu ibuku menari kenyah. Burung-burung berhinggapan di jari-jari tangannya.

Pagi-pagi sekali, ribuan bangkai hutan diseret di atas sungai Mahakam. Kau setubuhi juga anak-anak gadis kami dengan penismu yang terbuat dari gergaji. Kau curi hati anak-anak muda kami lewat perahu bermotor. Lalu bayangan hutan jatuh di atas permukaan sungai, seperti jatuhnya sebuah mahkota. Sejak itu ibuku tak pernah menari lagi.

Pagi-pagi sekali aku ambil kembali sungai Mahakam, seperti mengambil selimut tidur ibuku dan aku kembalikan ke dalam goa itu. Sejak itu, kau tak akan pernah lagi menemukan hutan di mana pun, kau tak akan melihat lagi sungai di mana pun. Tetapi burung-burung terus bernyanyi tentang hutan dan sungai agar ibuku kembali menari. Tarian yang membuat seluruh isi rumahmu bergerak seperti kaki-kaki hutan. Daun yang tiba-tiba tumbuh di seluruh dinding rumahmu. Bau air mata yang masih tercium dari bantal tidurmu.

………….

Ini antara puisi prosa yang selalu sahaja memikat saya apabila membacanya. Siapa sangka ini puisi protes tentang penebangan balak secara haram di Indonesia. Judulnya langsung tidak menggungguli isi di dalamnya. Bau Air Mata Di Bantal Tidurmu memulakan sajaknya dengan baris yang membuatkan imaginasi saya meliar, Pagi-pagi sekali hutan telah bangun dan berjalan ke kamar hotelmu. Hutan yang berjalan, bayangannya seperti jubah matahari. Begitu jelas imejan yang dibina penyajak, hutan yang sebegitu besar, di antara kita jika dia boleh berjalan, boleh sahaja menutup seluruh cahaya matahari, tersebab itu dikatakan bayangan seperti jubah matahari yang menutup matahari daripada bersinar.

Setiap kali saya membaca baris pembukaan sajak ini, saya merasakan pesona dan godaan imejan yang sangat kuat, saya jatuh cinta pada pembinaan suasana yang misteri, dan suara kesedihan yang disembunyikan oleh penyajak di dalam sajaknya.

Saya selalu sahaja mentafsirkan –mu di dalam sajak ini adalah mereka yang sering kali terlibat dalam penebangan haram di Indonesia, sang pengusaha. Kekayaan yang dikumpulkan hasil batang-batang pohon berjatuhan daripada perutku, bayangan hutan jatuh di atas permukaan sungai, buat dibelikan rumah, kamar tidur dan bantal tidur sehingga sisa roh kesedihan itu boleh menjadi bau air mata yang masih tercium dari bantal tidurmu.

Kalau di sini yang selalu ditulis, atau diterima untuk disiarkan tentu sahaja berjudul: Kehijauan Yang Hilang, Pohon Jiwa, Dedaun Melayang ataupun paling-paling tidak pun Wacana Hijau. Mungkin!

4 thoughts on “Sajak: Bau Air Mata di Bantal Tidurmu”

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s