Puisi Bulan Ini: Puisi dan puasa


Saya tidak dapat menafikan, ini antara puisi yang ditulis bertemakan Ramadan yang begitu memikat saya. Setiap kali saya membacanya, saya akan selalu tersenyum, kadangkala sedikit pilu menjengah. Selain daripada dituju untuk bulan puasa, puisi ini juga relevan untuk sepanjang tahun, kerana begitulah nasib puisi di negara kita:

di meja makan, aku melihat anak-anak
menikmati sampah kata yang sudah berubah.
jadi sesuatu yang indah.

Terlalu banyak sampah kata-kata yang keluar, tetapi seorang penyair/penyajak yang tidak mengenal erti putus asa akan tetap menulis sejumlah kata-kata indah dan mengubah sampah kata-kata menjadi sesuatu yang indah tanpa merungut betapa tidak terpandangnya puisi di negara ini.

Kerana begitulah sifatnya sebuah puisi. Semoga lebaran ini boleh juga melebarkan hati saya dan pembaca puisi semuanya seperti dalam baris dalam puisi ini.

semoga lebaran
melebarkan hati anak-anak

dan bisa menerima takdir
mereka sebagai puisi.

Saya menanti sajak-sajak bertemakan sesuatu perayaan atau peristiwa yang tidak hanya boleh dibaca dan difahami ketika waktu peristiwa itu sahaja tetapi sajaknya merentas maknanya yang meluas lagi seperti perasaan saya semasa memabaca sajak Aan Mansyur : Puisi dan Puasa

Aan Mansyur : Puisi Dan Puasa

1

pada bulan puasa,
harga-harga kata naik.

aku tak mampu beli banyak
kata untuk istri dan anak-anak.

“kita akan makan apa
besok dan besoknya lagi?”
istriku bertanya.

kita akan puasa.

kami, keluarga puisi,
terpaksa harus belajar
menahan haus dan lapar.

tetapi, kata istriku, puisi
saat puasa tetap butuh kata
buat sahur dan buka puasa.

“ayah, tetangga-tetangga kita
punya banyak sekali kata,”
kata anakku yang lebih tua.

“aku selalu melihat banyak kata
dibuang ke tempah sampah mereka,”
tambah anakku yang lebih muda.

mereka keluarga kaya
kita keluarga papa.

berdoa lalu tidurlah!
semoga tuhan mengetuk pintu tetangga
dan mereka akan memberi kita
banyak sedekah kata.
begitu aku menghibur mereka.

setelah mereka tidur,
aku meninggalkan kamar,
mengendap-endap ke luar
menuju tempat sampah tetangga
mengumpulkan sampah kata-kata.

pikirku, ini bisa diolah jadi kata-kata baru.
lumayan buat sahur dan buka puasa.

di meja makan, aku melihat anak-anak
menikmati sampah kata yang sudah berubah.
jadi sesuatu yang indah.

aku menangis-bahagia.

2

anak-anak puisi
tidak hanya butuh makan
buat sahur dan buka puasa.
mereka juga butuh baju lebaran.

aku tak mau melihat anak-anakku
bersedih-hati pada hari lebaran
seperti pada hari-hari lainnya.

tiap malam kunyanyikan kata-kata tuhan
dan tentu saja tidak lalai sembahyang.
semoga tahun ini keajaiban bertandang
membawa berkah kepada keluarga kami.

agar aku dianugerahi kekuatan bekerja
dan mendapatkan lebih banyak rezeki.

agar aku mampu membeli selembar kain
dan menjahitnya jadi pakaian buat anak-anak.

aku malu jika terus-menerus hanya bergantung
pada pembagian zakat dan sedekah orang lain.

lebaran kali ini, kami para puisi,
harus bisa tampil lebih bersih
melebihi tahun sebelumnya.
hati, badan, dan baju kami
semuanya harus bersih.

semoga lebaran
melebarkan hati anak-anak

dan bisa menerima takdir
mereka sebagai puisi.

3

semoga bulan puasa ini
memberi kami, para puisi,
banyak pelajaran.

semoga bulan puasa ini
menyucikan kami, para puisi,
dari kesalahan.

semoga bulan puasa ini
bukan bulan puasa terakhir
bagi kami, para puisi.

makassar, 2008

puisi dan puasa.

4 thoughts on “Puisi Bulan Ini: Puisi dan puasa”

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s